Politisi Spiritual Membangun Komunikasi Sambung Rasa


Jakarta.SNet- Selama masa jabatannya di pemerintahan mulai sejak Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta sampai memasuki tahun ke 4 sebagai Presiden Indonesia, Jokowi adalah sosok yang sangat dekat dengan ULAMA dan HABAIB. Kedekatan Jokowi dengan Ulama tentu saja membawa BERKAH dan semakin mengasah sisi SPIRITUAL dan mempertajam KEPEKAAN batinnya. Sehingga Jokowi Mampu Menjalin Komunikasi SAMBUNG RASA dengan berbagai elemen masyarakat, bahkan dengan pihak yang bersebrangan dengannya.

Jokowi MENYADARI betul bahwa merosotnya kualitas kehidupan masyarakat ialah penyelenggaraan kehidupan POLITIK tanpa dilandasi oleh PRINSIP SPIRITUAL (politics without spiritual principles). Kehidupan politik lebih banyak berisi permainan uang, kata dan perebutan kuasa sebagai gejala infantilisme yang jauh dari dunia pikir, refleksi dan KONTEMPLASI.

Karena itu, Presiden Joko Widodo mengkritisi sosok-sosok yang selama ini mengisi panggung politik di Indonesia. "Selama ini di panggung kita, terutama panggung politik kita, terlalu banyak didominasi oleh jiwa-jiwa yang kosong, jiwa-jiwa yang kering. Indonesia saat ini membutuhkan jiwa yang mulia, berintegritas, jujur, memiliki etos kerja dan moralitas yang baik," kata Jokowi.

Tentu saja KRITIK Jokowi ini MENYENTAK kita semua. Pasalnya dalam praktik kehidupan politik di negeri ini, politisi  tampaknya memahami hakekat politik secara sempit dan konservatif. Politik dimengerti terbatas pada cara bagaimana seorang politikus atau parpol dapat memenangkan pemilu, meraih kursi atau posisi di legislatif dan eksekutif,  kemudian melanggengkannya sehingga memperoleh posisi “terhormat” dalam masyarakat.

Di samping itu, terjun ke “dunia” politik dianggap menjanjikan penghasilan besar lewat jalan pintas, tanpa  syarat pendidikan tinggi. Hanya sebagian kecil saja dari mereka yang memandang politik sebagai salah satu cara untuk menata kehidupan negara agar terwujud kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran rakyat.

Oleh karena itu patut kita APRESIASI langkah Jokowi menggandeng KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres pendampingnya di Pilpres 2019 mendatang. Pasalnya, di tengah kultur politik yang labil dan tunamoral, bangsa Indonesia membutuhkan pencerahan spiritual dari tokoh-tokoh agama. Bangsa ini harus cepat ”SIUMAN” sebagai manusia yang BERBUDAYA, bermartabat tinggi dan BUDI LUHUR.

Kita merindukan Pemimpin Umat yang MUMPUNI dalam  melaksanakan pembangunan  BERBASIS nilai SPIRITUAL. Sehingga perkembangan pesat pembangunan fisik tetap selaras dengan pengembangan nilai AGAMA dan KEARIFAN LOKAL. Nilai-nilai agama semestinya tertanam di jiwa SANUBARI Sang Pemimpin sehingga MEWUJUD dalam KARYA NYATA untuk Meningkatkan Kualitas Hidup rakyat.

Jika orang beragama hanya mementingkan ritus, kredo, atau SIMBOLISME, hal itu tidak memberikan manfaat apa pun bagi KEHIDUPAN dan KEMANUSIAAN. Marilah kita beragama tidak secara dangkal, tetapi bermanfaat bagi kepentingan semua orang.

# SNet - AZ / Jenius

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius