Rekonstruksi Sistem Perekonomian Indonesia : Tinggalkan Kapitalisme


Jakarta.SNet- Mungkin kesibukan mengejar kesejahteraan hidup telah membuat kita tidak sempat memikirkan sistem kehidupan yang melingkupi kita. Kita seakan tak peduli untuk menggugat sistem ekonomi kapitalisme yang terus menjerat kita kepada perbudakan. Bahkan, banyak diantara kita,  tanpa sadar, sebetulnya sudah menjadi KAPITALIS.

Demikian diungkapkan oleh Ketua Umum Persemakmuran Pewaris Nusantara, KGPH Eko Gunarto Putro kepada wartawan di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. “Semakin masuk dan terbukanya akses budaya yang dibangun oleh kapitalisme, maka gaya hidup (life style),  paradigma umum, dan hasrat manusianya semakin terjerumus dalam kultur yang diformatnya pula,” tambahnya.

Menurut Kangjeng Eko, kran kapitalisme neoliberal yang kini semakin terbuka, telah mempengaruhi tidak hanya kebijakan elit politik, namun sampai pada tingkat akar rumput, dan tentunya juga budayawan dan agamawan.

“Siapapun Anda, jika Tidak Dapat Membedakan KEINGINAN dan KEBUTUHAN, maka Anda sudah TERJERUMUS ke dalam CENGKERAMAN KAPITALIS. Pasalnya, Kapitalisme memiliki keharusan bahkan kewajiban untuk memproduksi barang atau jasa untuk memenuhi KEINGINAN, bukan sekadar KEBUTUHAN,” Kangjeng Eko mengingatkan.

Kangjeng Eko mengatakan, Konsep Ekonomi pada umumnya sekarang ini dilihat dari saat KEINGINAN TERPENUHI dan materi bisa diperoleh. Ini menimbulkan satu individu dan masyarakat yang menjadi materialisme sebagai pedoman kehidupan. Karena, bagi mereka tidak ada nilai yang lebih tinggi kecuali nilai materi. Kemudian nilai – nilai keagamaan, kemanusiaan, kemoralan dan keadilan jadi terabaikan. “Jelas bahwa system Kapitalisme bentuknya nyata seperti itu. Sekarang ini Kapitalisme mendorong kita pada suatu INDUSTRI KEINGINAN,” tegasnya .

Sudah tidak ada tawar menawar dalam hal ini, “industry keinginan” menjadi suatu kekuatan dalam kehidupan masyarakat diberbagai dunia khususnya Indonesia. “Industri keinginan” yang berusaha memuaskan keinginan kita bukan kebutuhan secara umum layaknya kebutuhan manusia yang ada batasnya. Kapitalisme sungguh membuat manusia menjadi robot – robot pekerja yang manghamba pada materi.

Jadi mendorong pada keinginan, keinginan dan keinginan. Bukan pada kebutuhan yang lebih objektif dan kepentingan umum. Karena pada dasarnya manusia sudah tahu apa yang harus dibutuhkan. “Kebutuhan utama manusia seperti Pakaian,Kesehatan, Pendidikan, Spiritual, Makanan, Minuman dan Tempat Tinggal seakan dikalahkan oleh keinginan lain yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan,” tandasnya.

Dikatakannya, PRILAKU KONSUMTIF dan tidak puas itulah akibat dari system Kapitalisme. Khusus di Indonesia yang masyarakatnya sangat konsumtif tanpa bisa memproduksi, Kapitalisme menjadi suatu yang “haram” untuk diterapkan di Indonesia. “Walaupun pada dasarnya Kapitalisme bukan dasar Negara Indonesia, tetapi pada kenyataannya prilaku umumnya masyarakat Indonesia adalah Kapitalis dan pemerintah Indonesia seperti merestui Kapitalisme sebagai system kehidupan masyarakat Indonesia,” katanya.

Oleh karena itu, tak ada pilihan, bagi kita menjadikan Pemilu Serentak 2019 sebagai Pintu Gerbang Rekonstruksi Sistem Ekonomi Indonesia. Maka, jangan SALAH PILIH.! “Kita harus memilih Capres-Cawapres yang berani tanda tangan KONTRAK POLITIK bahwa mereka akan menjadikan Sistem EKONOMI PANCASILA dalam mengelola Ekonomi dan Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia,”pungkasnya.

# SNet - AZ / Jenius

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius