Baznas Padang Pariaman Salurkan Donasi Mesjid Untuk Palu dan Donggala


Padang Pariaman.SNet- Rangkaian gempa mengguncang Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 silam membawa duka yang mendalam bagi seluruh anak bangsa terkhusus saudara kita yang di Palu dan Donggala Provinsi Sulawesi Tengah.

Gempa bermagnitudo 7,4 yang tertinggi memicu tsunami dan likuefaksi. Akibatnya, 2.045 korban meninggal dunia, 671 orang hilang dan 10.679 jiwa luka berat. Selain itu, sebanyak 67.310 rumah, 2.736 sekolah rusak, 20 fasilitas kesehatan dan 12 titik jalan rusak berat. Sebanyak 82.775 warga mengungsi di sejumlah titik di Palu, Donggala, dan Sigi.

Sebagai bentuk empati dan duka masyarakat Sumatra Barat khususnya daerah Kabupaten Padang Pariaman, pemda setempat bersama Badan Amil Zakat (Baznas) bekerjasama dengan Kementerian Agama Padang Pariaman dan berbagai pihak terkait menggalang dana melalui donasi.

Ketua Baznas Kabupaten Padang Pariaman, Syamsuardi Suma kepada Investigasi News/ www.investigasi.net menyampaikan penggalangan dana melalui donasi salah satunya dilakukan dengan menyurati Pengurus Masjid se Padang Pariaman.

“Kita menyurati dan menghimbau para Pengurus Masjid di daerah ini agar menjalankan kotak infak pada jama’ah Shalat Jummat dan menghimbau agar ikut meringankan saudara kita di Palu dan Donggala Sulawesi Tengah yang terkena musibah gempa, tsunami dan likuefaksi, “ujar Syamsuardi.

Disampaikannya, donasi dapat disalurkan langsung ke Rekening Baznas Padang Pariaman melalui Rekening BNI No. 0059851045 dan untuk konfirmasi langsung ke WA No. 08116609401.

“Selain donasi melalui kotak infak yang di kumpulkan Pengurus Masjid setiap Shalat Jummat kita tidak menutup harapan donasi dari perseorangan, organisasi, lembaga swasta ataupun negeri yang berimpati dengan musibah yang menimpa saudara kita di Sulteng itu, “ungkap Ketua Baznas Padang Pariaman ini.

Pada kesempatan itu Syamsuardi juga menyampaikan, pihaknya juga telah meninjau dan melakukan pendataan terhadap korban banjir dan longsor yang melanda Padang Pariaman khususnya di VII Koto dan Lurah Ampalu, Kamis 11/10/2018.

Dikatakannya, akibat bencana banjir dan longsor itu 5 (lima) rumah di Nagari Ampalu dan 1 (satu) rumah di Nagari Koto Dalam Selatan harus dibangun kembali. “Baznas menyalurkan bantuan Rp 10 Juta/rumah sehingga untuk 6 rumah akan segera disalurkan bantuan Rp 60 Juta, “ujarnya.

Disamping itu, ada 9 (sembilan) rumah yang terkena dampak longsor di Padang Sago yang masing-masingnya dibantu mulai 500.000,- sampai Rp 1 Juta/ rumah. “Sementara masih banyak kerugian masyarakat lainnya diantaranya berupa tanaman yang rusak, ternak yang hanyut dan lainnya yang masih memerlukan donasi semua pihak, “tutur mantan Camat Nan Sabaris ini.

Historis Palu dan Donggala
Dan Minangkabau

Di Kota Palu, Sulawesi Tengah terdapat Makam Syekh Abdullah Raqie atau yang lebih dikenal dengan sebutan Datuk Karama. Makam tersebut sebelumnya dikenal cukup sakral dan hanya orang tertentu saja yang bisa masuk ke area makam ini, kini menjadi salah satu Obyek Wisata rReligi setelah disetejui oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, beberapa tahun silam.

Menurut Juri Kunci Makam Datuk Karama, Aziz Muhammad dia menceritakan, Datuk Karama adalah seorang Uama asal Minangkabau, Sumatra Barat yang pertama kali menyebarkan Agama Islam ke Kota Palu pada abad ke-17.

Awal kedatangan Datuk Karama, menurut dia, bermula di Kampung Lere yang saat ini telah menjadi Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Kedatangan Datuk Karama saat itu pada masa Kerajaan Kabonena, yang Rajanya saat itu Ipue Nyidi.

Selanjutnya Datuk Karama melakukan syiar Islamnya ke wilayah-wilayah lainnya di Palu yang dihuni oleh masyarakat asli Suku Kaili. Wilayah-wilayah itu, meliputi Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi Moutong, dan Tojo Una-Una.

Pada masa itu, masyarakat asli Suku Kaili masih menganut kepercayaan animisme yang mereka sebut “tumpuna”, di mana mereka mempercayai adanya makhluk yang menunggui benda-benda yang dianggap keramat.

“Namun dengan metode dan pendekatan yang persuasif serta wibawa dan kharismanya yang tinggi, syiar Islam yang dilakukan Datuk Karama melalui ceramah-ceramah pada upacara-upacara adat suku tersebut, akhirnya secara perlahan dapat diterima oleh Raja Kabonena Ipue Nyidi dan masyarakat Kaili.

Perjuangan Datuk Karama saat itu, akhirnya berhasil mengajak Raja Kabonena, Ipue Nyidi beserta rakyatnya masuk Islam, dan dikemudian hari Ipue Nyidi dikenang sebagai raja yang pertama masuk Islam di Palu, “sebutnya.

Saat itu pula, lanjut Aziz, Datuk Karama, beserta keluarga dan pengikutnya tidak kembali lagi ke tanah kelahirannya di Minangkabau, dan lebih memilih bertahan di Palu untuk menyebarkan agama Islam. “Sampai meninggal dunia, Datuk Karama serta keluarganya dan pengikutnya juga di Palu, “ungkapnya.

Diketahui, setelah wafat, jasad Datuk Karama dimakamkan di Kelurahan Lere. Dan tidak hanya itu, di dalam areal makam juga terdapat makam istrinya yang bernama Intje Dille dan dua orang anaknya yang bernama Intje Dongko dan Intje Saribanu serta makam para pengikut setianya yang terdiri dari 9 makam laki-laki, 11 makam wanita, serta 2 makam yang tidak ada keterangan di batu nisannya.

Terus berjalannya waktu, akhirnya makam Datuk Karama dibenahi dengan kontruksi Rumah Gadang khas Minang dan dijadikan sebagai Cagar Budaya sekaligus Obyek Wisata Religi oleh Pemkot Palu dan dijaga oleh sekeluarga juru kunci, yakni Aziz Muhammad bersama keluarganya.

Sedangkan untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Datuk Karama di Palu, Pemkot Palu menamai salah satu perguruan tinggi di Palu, yakni IAIN dengan nama IAIN Datuk Karama Palu.

Selain itu, masih banyak juga peninggalam Datuk Karama yang hingga saat ini masih digunakan warga Palu, salah satunya alat musik tradisional Suku Kaili yang disebut Kakula, itu sama dengan alat musik tradisonal Talempong di Minangkabau. “Alat musik tradisonal itu merupakan peninggalan sang Datuk Karama, “ujar Aziz.

# SNet - Red / Investigasi News

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius