Transformasi Nilai - Nilai Islam Dalam Memberdayakan Masyarakat


Jakarta.SNet- “Limadza Ta'akhara Al-Muslimun Wa Taqaddama Ghairuhu. MENGAPA UMAT ISLAM TERTINGGAL DAN SELAIN MEREKA MAJU.!??”  Padahal umat Islam pernah mengalami masa keemasan Islam, atau sering disebut dengan istilah ‘’The Golden Age’’. Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab.

Berdasarkan penelitian para Ulama, Cedekiawan dan Pemikir Muslim, KEMUNDURAN umat Islam adalah karena mereka tidak mampu MENTRANSFORMASIKAN Nilai-nilai Islam ke dalam REALITAS SOSIAL. Sehingga terjadi ketimpangan sosial di tengah masyarakat. Pada saat, sebagian umat berbondong-bondong Naik Haji, ketika itu pula sebagian besar masyarakat sedang dilanda kemiskinan. Seakan tidak ada KORELASI antara ibadah INDIVIDUAL dengan KEPEDULIAN SOSIAL.

Karena itu, supaya tidak terjadi ketimpangan sosial, maka sangat dibutuhkan TRANSFORMASI nilai-nilai Islam yaitu melakukan proses PEMBERDAYAAN dan PEMBEBASAN umat terutama pada kaum dhu’afa dari berbagai bentuk eksploitasi baik pada level individual maupun struktural.

Dengan kata lain, mereka yang benar-benar BERTAUHID, seyogyanyalah selalu PEKA dan terpanggil KESADARANNYA untuk memerdekakan, membebaskan, dan memberdayakan umat manusia dari segala macam eksploitasi yang membuat kehidupan ini menjadi nista, sekaligus jangan sampai terjangkiti penyakit yang menghancurkan hakikat kemanusiaan ini.

Dalam kaitan itulah, Dewan Kemakmuran Masjid Baiturrahman mengembangkan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat berbasiskan Nilai-nilai Islam. TAUHID adalah inti dari seluruh ajaran yang di bawa Nabi Muhammad SAW. Sekalipun beda tempat, aspek dan cara, namun esensi dari itu semua adalah sama, yaitu tauhid. Bila di Mekah, nabi lebih menekankan kepada tauhid aqidah, yaitu  KEIMANAN terhadap Sang Khaliq, maka di Madinah lebih kepada tauhid sosial berupa aplikasi dari tauhid akidah itu sendiri dalam hubungan sosial.

TAUHID, dengan serangkaian nilai yang dikandungnya, hari ini mendapatkan tantangan yang cukup besar. Dimana konsep tauhid tidak cukup hanya dipahami sebagai DOKTRIN semata yang ternyata tidak mampu menjawab persoalan zaman hari ini. Sebagai muslim, tidaklah cukup kalimat tauhid tersebut hanya dinyatakan dalam bentuk ucapan (lisan) dan diyakini dalam hati, tetapi harus dilanjutkan dalam bentuk PERBUATAN (Amal Shaleh).

Sebagai konsekuensi pemikiran ini, Dewan Kemakmuran Masjid Baiturrahman memandang dan memahami bahwa semua ibadah murni (mahdhah) seperti shalat, puasa, haji, dan seterusnya memiliki DIMENSI SOSIAL. Artinya, KUALITAS IBADAH seseorang sangat tergantung pada sejauh mana ibadah tersebut MEMPENGARUHI perilaku sosialnya. Maka, semakin RELIGIUS seseorang, seharusnya semakin tinggi KEPEDULIAN SOSALNYA. Nah berawal dari Kepedulian Sosial inilah akan bisa dibangun Masyarakat yang BERDAYA.

# SNet - AZ
🤝❤️🇮🇩👌💪

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius