Diatas Kuda Besi Berekreasi dan Berkontemplasi


Jakarta.SNet- Tiap orang umumnya memilih moda transportasi yang lebih cepat sampai tujuan, aman dalam perjalanan, dan juga nyaman sepanjang jalan. Yang paling cepat, tentu saja adalah pesawat. Yang paling aman, pastilah kereta api. Yang paling nyaman, umumnya adalah membawa kendaraan sendiri.

Jika mau menggabungkan ketiganya sekaligus, kereta api adalah pilihan paling ideal. Apalagi, sejak revolusi kuda besi yang dijalankan Ignasius Jonan menyentuh sampai ke akar-akarnya, perjalanan kereta api selain aman dan cepat, juga tepat waktu.

Dari sisi waktu yang digunakan, untuk jarak sampai 500-700 kilometer, waktu total yang harus disediakan jika memilih KA juga tak kalah jauh dengan pesawat. Dengan pesawat terbang, orang harus menghabiskan 1-2 dua jam menuju bandara. Lalu membuang lagi 1 jam untuk menunggu hingga terbang. Perjalanan di udara sekitar 1-1,5 jam. Lalu menghabiskan 0,5 jam untuk keluar dari pesawat, dan 1-2 jam lagi untuk keluar dari bandara sampai tempat tujuan. Totalnya kira-kira 7 jam untuk jarak hingga 700 km.

Dengan kereta api, jarak yang sama dibutuhkan waktu 1 jam dan 1 jam untuk menuju stasiun dan dari stasiun ke tujuan (karena biasanya stasiun KA ada di tengah kota), ditambah waktu 8  jam perjalanan. Total adalah 9-10 jam.

Jadi, secara total, kira-kira beda antara kuda besi dan burung besi sekitar 2-3 jam saja.

Tak heran jika Presiden Jokowi sangat menggebu-gebu merevitalisasi jalur-jalur kereta api, termasuk membuka jalur-jalur baru yang mungkin. Untuk jalur-jalur yang pendek, pengaktifan kembali jalur KA segera dilaksanakan karena rencana dan kajiannya memang sudah lama dibuat. Secara umum, transportasi KA untuk urusan logistik juga jauh lebih murah dibandingkan menggunakan kendaraan darat lainnya.

“Biaya transportasi, logistik di Indonesia masih 2-2,5 kali lipat daripada negara tetangga, baik Singapura maupun Malaysia dan negara tetangga lainnya. Artinya jika infrastruktur tidak dibangun, jangan berharap produk kita, komoditas kita, barang-barang kita bisa bersaing dengan negara-negara tetangga,” kata Presiden Jokowi pada Maret 2016.

Kereta api, adalah salah satu cara memangkas biaya logistik yang dimaui Jokowi, selain bisa menghidupkan kembali kecintaan warga menggunakan alat transportasi ini.

Revitalisasi Rel Kereta Api

Perjalanan dengan pesawat udara adalah perjalanan gegas dan segera. Jika ingin buru-buru dan dikejar waktu, dialah pilihan utama. Sementara perjalanan berkereta api adalah perjalanan rekreatif sekaligus kontemplatif. Juga bisa produktif.

Sepanjang perjalanan, orang bisa melihat pemandangan aneka rupa, dari padatnya kota hingga hijaunya pemandangan pegunungan atau pinggiran pantai.

Sepanjang jalan itu pula, banyak pilihan bisa dilakukan. Mengerjakan pekerjaan yang tertunda, menuntaskan buku yang belum selesai, atau benar-benar melepas penat tubuh yang sebelumnya dipaksa terus bekerja.

Jalur tengah Jawa yang menghubungkan Jakarta dan kota-kota di bagian tengah Jawa (Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, hingga Surabaya), sarat dengan pemandangan pegunungan.

Sementara jalur tepian utara Pulau Jawa dari Cirebon, Pekalongan, Semarang, sampai Surabaya, menyuguhkan kombinasi pemandangan gunung dan laut yang elok belaka.

Di Jawa Barat, ada empat jalur yang akan direvitalisasi segera atas perintah Jokowi. Keempatnya adalah ruas Banjar-Cijulang-Pangandaran-Parigi, Garut-Cikajang, Cikudapateuh Bandung-Banjaran-Ciwidey, dan Rancaekek-Tanjungsari.

Jalur lain di luar Jawa Barat yang sudah ada dalam rencana adalah Cilegon-Anyer Kidul, Rangkasbitung-Labuan-Suketi, Wonosobo-Purwokerto, Kedungjati-Tuntang, Semarang Tawang-Tanjung Emas, dan Yogyakarta-Magelang.

Sementara beberapa ruas rel mati lain yang diaktivasi di Jawa lainnya sampai 2019 yakni Jombang-Bebet-Tuban, Kalisat-Panarukan, dan aktivasi rel trem Wonokromo-Kalimas di Surabaya.

Sebagian dari program pengaktifan kembali bahkan hari ini sudah bisa dinikmati. Ruas jalur di Jawa Tengah, misalnya. “Turut menyaksikan peluncuran dan icip-icip perjalanan perdana Kereta Api Joglosemarkerto. Keliling Jawa Tengah dan DIY kini jadi lebih mudah,” tulis Tampah Widodo di dinding Facebook-nya. Mukanya tersenyum duduk di kursi KA bersama istrinya.

Bahkan tidak hanya jalur KA Jawa yang sudah mati yang akan diaktifkan kembali. Jalur Sumatera yang sudah lama mati juga dalam proses dihidupkan.

Rel-rel mati peninggalan Belanda yang dioperasikan kembali sampai 2019 yakni untuk Sumatera reaktivasi jalur Pariaman-Naras, Naras-Sungai Limau, Padangpanjang-Bukittinggi-Payakumbuh, Muarokalaban-Muaro, dan Tanjung Karang-Pelabuhan Panjang.

# SNet - Red/Jokowi App

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius