Freesca Syafitri Mendapat Kehormatan Hadiri KTT ke 11 GFMD Maroko


Maroko.SNet- Menghargai Komitmen International untuk membuka Potensi Semua Migran dalam Pembangunan merupakan topic Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke - 11 Forum Global tentang Migrasi dan Pembangunan (Global Forum for Migration and Development (GFMD) yang dibuka pada Rabu 5 Desember 2018 di Marrakech Maroko.

KTT ini dihadiri oleh para menteri dan pejabat negara lebih dari 110 negara di dunia yang diselenggarakan atas dasar situasi migrasi atau pergerakan dan perpindahan penduduk secara global yang sedang berkembang dan semakin berdampak dalam secara ekonomi, social dan politik, serta krisis migran yang makin memuncak baik di Amerika Serikat, negara – negara di Eropa, Afrika maupun Asia.

Konferensi yang berlangsung hingga tanggal 7 Desember 2016 ini mempunyai 2 format kegiatan yaitu: Civil Society Day, yang dimulai pada tanggal 4 Desember 2018, berupa dialog pemerintah dengan beberapa pemangku kepentingan seperti organisasi internasional, LSM, sektor swasta, think tank, serta para akademisi dari negara – negara anggota PBB.

Konferensi Tingkat Tinggi (mulai tanggal 5 Desember 2018) antar Pemerintah perwakilan negara – negara anggota PBB serta pengamat terpilih dari sector swasta, akademisi dan think tank.

GFMD yang saat ini dipimpin secara bersama oleh Marokko dan Jerman,   merupakan forum sukareka,  tidak resmi dan tidak mengikat dan mengundang semua negara - negara anggota dan para pengamat PBB untuk memperkuat pemahaman dan kerjasama dalam memperkokoh hubungan antara migran dan pembangunan.


Freesca Syafitri : Pentingnya Menggali Potensi Diaspora Untuk Pembangunan Nasional

Pada KTT ke-11 GFMD 2018 ini, Freesca Syafitri – pengamat ekonomi dan caleg DPR RI dari Partai Demokrat untuk Dapil Sumbar 1 mendapat kehormatan untuk hadir dalam forum tingkat tinggi ini mewakili sektor swasta sebagai pengamat, serta berdialog dengan perwakilan negara - negara anggota PBB lainnya. Seleksi ketat yang dilakukan oleh panitia pelaksana KTT ini menetapkan 2 pengamat dari Indonesia yaitu dari sektor swasta (Freesca Syafitri) serta 1 orang pengamat dari LSM Migrant Care di bidang perlindungan buruh migran.

Pada forum ini Freesca Syafitri diberikan kesempatan mempresentasikan ide dan hasil kerja kelompok dengan tema “Global Migration and Development Academy“ berfokus pada perkembangan dan potensi diaspora sebagai aktor pembangunan nasional. Kelompok ini beranggotakan 8 orang yang terdiri dari, pejabat negara, LSM, think tank, pelaku bisnis dan akademisi dari Meksiko, Filipina, Banglades, Indonesia, Djibouti, Jerman, Maroko, dan Ekuador.

Dalam konferensi ini Freesca menekankan sangat perlunya kerjasama dengan prinsip win–win solution dalam memaksimalkan potensi diaspora di berbagai negara - negara berkembang tersebut, terutama Indonesia.

Freesca juga menyampaikan khusus untuk Indonesia perlu adanya kerjasama yang serius antara pemerintah dan para Diaspora Indonesia agar potensi diaspora Indonesia dapat dimaksimalkan dan sharing best-practises antara pemerintah Indonesia dengan pengalaman dari negara lain. Setiap negara mempunyai kebijakan masing - masing, namun di era global ini semua akan saling terkoneksi, kebijakan suatu negara akan mempengaruhi kebijakan negara lain.  Secara data ada sekitar 8 juta masyarakat Indonesia/ Diaspora yang tersebar di berbagai penjuru dunia dengan berbagai profesi. Di era ketika batas - batas geografis tidak lagi penting, berbekal ketrampilan dan keahlian, orang semakin mudah menjelajahi dunia. Indonesia yang akan menyongsong bonus demografi di mana generasi millenial bisa memilih negara manapun yang mereka suka untuk ditinggali dan bekerja secara profesional. Jika saat ini saja sudah ada sekitar 8 juta diaspora Indonesia di berbagai penjuru dunia, bisa di bayangkan bahwa angka ini akan meningkat tajam beberapa tahun ke depan, jika pemerintah tidak siap dalam memfasilitasi kebutuhan diaspora serta memanfaatkan potensi diaspora yang tersebar di dunia agar bisa saling terhubung dan berkolaborasi untuk kemajuan Indonesia. Kita bisa lihat bagaimana negara seperti Malaysia, Filipina, Maroko, Meksiko , India, Mongolia dan beberapa lainnya yang mendapatkan banyak manfaat dalam melibatkan diaspora mereka di luar negeri.


Pada konferensi ini Freesca juga memberikan contoh salah satu daerah yang paling banyak diasporanya adalah Sumatera Barat selain beberapa daerah lainnya di Indonesia. Merantau atau migrasi dalam bahasa Inggris sudah merupakan tradisi dan budaya Minang yang sudah melekat pada masyarakat Minangkabau sejak berabad abad yang lalu. Tak heran jika begitu banyak perkumpulan anak perantau minang di luar negeri. Selain tujuan merantau bagi orang Minang adalah untuk mencari Ilmu, berdagang, ataupun mencari pangkat , kebiasaan merantau juga bertujuan untuk mencari kebaikan bagi diri sendiri dan keluarga. Di dalamnya terkandung falsafah hidup yang dalam. Salah satu kontribusi yang bisa diberikan diaspora adalah juga berkontribusi tidak hanya untuk Indonesia namun juga untuk membangun kota asalnya, hal ini mengingat keterbatasan pemerintah daerah dalam membangun daerahnya seperti keterbatasan membuat jejaring serta keterbatasan APBD dalam memajukan daerah.

Dialog yang dilakukan Freesca dan kelompok kerja ini mendapatkan respon positif dari berbagai pihak dan dunia International seperti: IOM/International Organization for Migration, GIZ/German Development Cooperation, PBB, perwakilan dari Banglades, Filipina, Meksiko dan para akademisi.
Global Forum untuk Migrasi dan Pembangunan ( GFMD) ini merupakan langkah persiapan untuk ratifikasi traktat Global tentang Migran ( Global Compact for Migration/GCM) yang telah di setujui PBB dan 164 negara pada tgl 10 – 11 December 2018.

Informasi ttg GCM juga ada di Wikipedia :  HYPERLINK "https://en.wikipedia.org/wiki/Global_Compact_for_Migration" https://en.wikipedia.org/wiki/Global_Compact_for_Migration

Untuk Global Forum for Migration and Development : https://gfmd.org/

# SNet - Red

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius