Lapan Pastikan Tsunami Selat Sunda Bukan Karena Meteor Jatuh


Jakarta.SNet- Tsunami di perairan Selat Sunda menerjang daerah pesisir Banten dan Lampung pada Sabtu (23/12) malam. Penyebab pasti tsunami ini masih diselidiki oleh para ahli, karena datangnya musibah tidak diawali dengan gempa bumi seperti tsunami pada umumnya.

Selain gempa, tsunami juga bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti tanah longsor bawah laut, letusan gunung berapi, hingga meteor jatuh. Soal dugaan meteor jatuh penyebab tsunami, Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) punya tanggapan tersendiri.

LAPAN telah memastikan bahwa gelombang tsunami di perairan Selat Sunda bukan disebabkan oleh jatuhnya meteor, asteroid, atau benda asing antariksa lainnya. Hal ini disampaikan oleh Ketua LAPAN, Thomas Djamaluddin.

"Tidak ada info benda jatuh antariksa. Benda jatuh dari sampah antariksa tidak akan berdampak besar," kata Thomas ketika dihubungi kumparan, Minggu (23/12).

Thomas menjelaskan, jika benar penyebab tsunami tersebut adalah benda dari langit, maka ia akan terlihat jelas ketika jatuh ke laut saat malam hari. "Meteorit besar pada malam hari pasti akan terlihat sebagai bolide sangat terang," jelasnya.

Bolide, menurut Thomas, adalah benda langit atau meteor yang sangat terang terutama yang meledak di atmosfer saat menuju Bumi.

Pria yang sudah memimpin LAPAN sejak 2014 ini menduga, jika longsoran di dalam laut menjadi faktor penyebab terjadinya tsunami di Selat Sunda. Meski tidak menutup kemungkinan bisa disebabkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau. Semua dugaan ini disebutnya masih perlu kajian lebih lanjut.

Di lain pihak, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut kemungkinan terbesar tsunami Selat Sunda disebabkan oleh longsoran bawah laut.

Sebelum gelombang tsunami melanda Banten dan Lampung, tercatat ada aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau yang sempat meletus pada 29 Juni 2018 lalu. PVMBG menyebut, lontaran material letusan sebagian besar jatuh di sekitar tubuh Anak Krakatau.

Kabid Mitigasi Gunung Api PVMBG Wawan Irawan menilai penyebab munculnya gelombang tsunami yang paling memungkinkan adalah akibat adanya longsoran di bawah laut. Namun, masih diperlukan pengamatan lebih dalam untuk memastikan hal tersebut.

"Longsor bawah laut masih menjadi salah satu yang hipotesanya harus kita pecahkan. Gempa bumi sudah terpecahkan, nah, penyebab longsoran ini apa?" kata Wawan.

Ia mengakui, agak sulit mengumpulkan data awal terkait kejadian tersebut. Namun, pihaknya akan mengirimkan tim ke lapangan untuk memantau penyebab longsor tersebut.

Jumlah korban tsunami Selat Sunda yang melanda Banten dan Lampung masih terus bertambah. Per Minggu (23/12) pukul 16.00 WIB, BNPB mencatat ada 222 orang meninggal dunia, 843 orang luka-luka, dan 28 orang hilang.

Selain itu, data kerusakan bangunan juga terus bertambah. Saat ini, sudah ada 556 unit rumah rusak, 9 unit hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, 350 kapal dan perahu rusak.

"Tidak ada korban warga negara asing. Semua warga Indonesia. Korban dan kerusakan ini meliputi di 4 kabupaten terdampak yaitu di Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan dan Tanggamus," jelas dia.

# SNet - Red / Kumparan

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius