Roza Febrianti : Membela Buruh Menggalang Kekuatan Umat


Cikarang.SNet- Buruh tetap TERTINDAS selama sistem ekonomi bercorak KAPITALISME masih diterapkan Pemerintah Indonesia. Para pemilik modal berlomba-lomba untuk mengekstraksi nilai kerja buruh sebesar-besarnya dengan upah serendah mungkin. Maka, selama kapitalisme menjadi sistem utama dalam kehidupan ekonomi masyarakat, selama itu pula buruh akan selalu dalam posisi yang TERTINDAS.

Demikian disampaikan Aktivis Buruh Perempuan Roza Febrianti Kepada wartawan seputar Nasib Kaum Buruh memasuki tahun 2019 di Pendopo Alhikmah, Cikarang, Jawa Barat. “ Kapitalisme itu layaknya drakula yang penghisap darah orang lain. Tingkat upah yang rendah dan ketiadaan jaminan sosial merupakan wujud eksploitasi mendasar bagi buruh di dalam kapitalisme,” tambahnya.

Menurut Roza Febrianti, wujud EKSPLOITASI paling klasik di dalam sistem ini berjalan dalam bentuk penekanan serendah-rendahnya biaya yang harus dibayarkan kepada buruh. Oleh sebab itu, tidak heran jika hingga kini kehidupan buruh di Indonesia terus saja digelayuti oleh permasalahan mendasar mulai dari persoalan upah sampai kepada jaminan sosial. “Terdapat sekitar 15 persen dari total pekerja di Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dengan standar yang lebih rendah, yakni di bawah Rp. 2,7 juta per bulan ," pungkasnya.

Dalam upaya MEMBELA KAUM BURUH yang tertindas dan MENGGALANG KEKUATAN UMAT itulah, Roza Febrianti  Go Politik, melangkah dari Pabrik ke Publik. Srikandi Buruh kelahiran Solok, Sumatera Barat itu, kini menjadi Calon Anggota Legislatif Partai BERKARYA untuk DPRD Kabupaten Bekasi. Roza mewakili Dapil 6 yang terdiri dari Kecamatan Karang Bahagia, Cikarang Timur dan Cikarang Utara.

“Semua kebijakan yang ada dan dikeluarkan oleh pemerintah sesungguhnya adalah produk politik. Oleh karena itu, penting bagi kaum buruh untuk terjun berpolitik dan mendukung secara real dan ikut dalam memenangkan calon-calon anggota legislatif dari buruh. Kaum buruh harus mulai memperluas strategi perjuangannya melalu ranah politik. Bahwa perjuangan buruh dari pabrik menuju publik,” tegas Roza.

Caleg Partai BERKARYA itu menjelaskan, minimal ada TUJUH masalah ketenagakerjaan yang layak mendapat perhatian karena sering diberitakan dan menjadi TUNTUTAN BURUH setiap demo tahun lalu. Masalah-masalah itu pun belum terselesaikan dengan baik, atau masih potensial terjadi pada 2019 ini sehingga perlu mencarikan solusi sejak awal tahun.

1. Outsourcing

Sistem outsourcing atau alih daya masih dijalankan di Indonesia. Dalam sistem ini, buruh berada di bawah naungan sebuah agen, untuk dipekerjakan pada perusahaan tertentu.

2. Upah murah

Upah merupakan inti dari aktivitas kerja. Dari sudut inilah seseorang mampu melanjutkan hajat hidup. Tetapi, upah ternyata juga menjadi masalah. Masih banyak perusahaan yang memberlakukan upah murah.?

3. PHK sepihak

Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ternyata masih menghantui kaum buruh. Padahal, PHK sepihak telah dinyatakan bertentangan dengan Undang-undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

4. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Isu K3 ikut meramaikan perbincangan publik di bidang ketenagakerjaan pada tahun 2014. Hal itu berkaitan dengan kecelakaan kerja di tambang Big Gossan milik PT Freeport di Papua yang terjadi pada Mei 2013. Pada Februari 2014 hasil penyelidikan Komnas HAM terhadap kasus itu menyimpulkan PT Freeport Indonesia melakukan pelanggaran HAM karena melakukan kelalaian sehingga puluhan buruh tewas.

5. Kesejahteraan mahal harganya

Kesejahteraan tampaknya masih menjadi barang mewah bagi buruh. Ini lantaran apa yang didapat buruh tidak sebanding dengan apa yang sudah dilakukan kepada pemilik modal. Masih banyak pemilik modal yang "pelit" dalam membayar buruh. Para pemilik modal melempar tanggung jawab pemenuhan kesejahteraan buruh kepada pemerintah.

6. Intimidasi pemilik modal

Tindakan pemilik modal terhadap buruh terkadang masih semena-mena. Bahkan tindakan yang diambil sering melanggar hak asasi para buruh.

7. Tenaga Kerja Asing

Indonesia akan memasuki era baru perdagangan regional bernama Masyarakat Ekonomi ASEAN. Pada rezim bisnis ini, arus keluar masuk tenaga kerja dan barang akan intens. Tenaga Kerja Asing (TKA) diprediksi semakin banyak datang dan bekerja di Indonesia.

# SNet - AZ

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius