Indonesia Terbuka Terhadap Kerja Sama Dengan Siapa Saja


Oleh : Luhut Binsar Pandjaitan

Indonesia terbuka terhadap kerja sama dengan siapa saja. Misalnya minggu ini kita kedatangan putra mahkota UEA menandatangani proyek senilai Rp 136 triliun, dan Hyundai Motors yang bertemu Presiden Jokowi. Selain itu masih ada peluang dengan negara-negara lain seperti Jepang atau Tiongkok.

Tentu semua investor harus memenuhi syarat yang ditetapkan pemerintah Indonesia, salah satunya kewajiban untuk transfer teknologi.

Khusus untuk mengetahui sampai di mana kemajuan teknologi terkini, saya pergi melihat secara detail apa yang terjadi di industri Tiongkok. Dalam kunjungan di awal bulan Juli ini, saya berada di 6 kota selama 6 hari.


Satu perjalanan yang tidak pernah bayangkan sebelumnya, bahwa saya sekarang dapat melihat sendiri berbagai macam industri yang merupakan supply chain daripada satu material, yang ujungnya berangkai pada bermacam-macam produk turunan. Contohnya dari nikel saja dapat diturunkan menjadi produk stainless steel, carbon steel, katoda, baterai lithium, kendaraan, furniture, bahkan sampai produk farmasi. Di sana saya menyaksikan bagaimana industri dirancang untuk menghasilkan nilai tambah yang luar biasa.

Kenapa industri Tiongkok bisa begitu hebat? Saya melihat karena mereka betul-betul menerapkan teknologi tinggi. Butinya, hampir di semua pabrik yang saya tinjau, dijalankan dengan teknologi robotik. Di samping itu mereka bekerja dengan efisien, disiplin, dan semua industri punya unit research sendiri.

Cara-cara tersebut menimbulkan efisiensi yang sangat sulit dikalahkan oleh Amerika sekalipun.

Tapi saya melihat satu kelemahan Tiongkok yang sangat tergantung kepada raw material. Padahal, Indonesia kaya dengan bahan mentah. Melihat peluang tersebut, saya menyampaikan pemikiran kepada Presiden Jokowi bahwa kita harus melarang ekspor bahan mentah yang bisa diolah di Indonesia berdasarkan ketentuan UU Minerba. Beberapa diantaranya adalah nikel, tembaga, atau mungkin ke depannya kelapa sawit.


Tanpa banyak kita sadari selama 4 tahun di bawah pemerintahan Presiden Jokowidodo, sebenarnya kita sudah mulai membangun industri nilai tambah seperti di Tiongkok yaitu di Morowali dan Weda Bay. 

Industri yang terintegrasi mulai dari nikel sampai turunannya sudah mulai dilakukan. Bahkan lewat proses recycling, kandungan kobalt dari baterai bekas masih dapat dimanfaatkan. Dengan 99,3% komponen yang dapat didaur ulang, ke depannya masih dapat dikembangkan menjadi zero waste.

Pengembangan industri nilai tambah seperti ini diharapkan dapat berkontribusi mengatasi permasalahan Current Account Deficit (CAD) kita dengan cepat. Sebagai gambaran, tabel yang saya posting ini menunjukkan angka yang cukup mengejutkan di mana dari Morowali saja dapat menghasilkan ekpor senilai USD 5,8 milyar tahun lalu. Sebelumnya, nikel yang diekpor dalam bentuk bahan mentah hanya menghasilkan USD 350 juta saja.

Kalau kita tambah lagi produksinya, ekpor tahun ini akan mencapai hampir 8-7 milyar lebih. Tahun depan, diproyeksikan meningkat menjadi USD 13,2 milyar.

Angka ini dapat mengurangi sampai sekitar 42% current account defisit (CAD) nasional, jika memakai acuan CAD secara full year tahun 2018 yang sebesar USD 31,1 milyar. Belum lagi saat pemerintah menerapkan kebijakan B30 yang akan mengurangi USD 3 milyar impor energi. 

Jadi kalau dikumpulkan dari 2 sektor ini saja, maka akan menghasilkan ekspor sekitar USD 17 milyar pada 2020. Nilai ini akan memperkecil CAD dan akibatnya akan memperkuat Rupiah. Artinya daya saing kita akan lebih bagus.

Hal di atas mungkin baru 40% dari rencana besar pengembangan nikel sampai ke produk turunannya berupa baterai lithium yang sekarang sedang dikembangkan.

Lagi-lagi saya tekankan bahwa siapa saja bisa kita ajak kerja sama. Bisa Tiongkok, bisa Volkswagen atau Marcedes-Benz dari Jerman, LG atau Hyundai dari Korea Selatan, atau Panasonic dari Jepang. Kerja sama di antara mereka sendiri sudah berkembang secara internasional, sehingga tidak ada lagi sebenarnya hanya satu negara yang secara an sich menguasai teknologinya. Kita pun membuka diri untuk bekerja sama dengan mereka dan semua negara yang saya sebut tadi juga ingin kerja sama dengan Indonesia sebagai pemilik raw material.

Tugas kita sekarang mempersiapkan SDM supaya orang-orang Indonesia dapat dipekerjakan secara mayoritas dan menerima transfer teknologi sesuai syarat yang selalu saya sampaikan pada investor besar.

Di samping itu, semua Kementerian/Lembaga harus padu dalam mengerjakan ini. Tidak bisa ada satu sektor yang merasa dirinya yang paling mengatur karena yang paling mengatur adalah kepentingan nasional. Jadi tidak bisa hanya bermuara pada kepentingan sektoral. 

Jika semua ini dapat kita laksanakan secara kompak, maka saya percaya ke depan ini Indonesia pasti akan jauh lebih baik. 

Dan saya pikir saat ini akan jadi satu era awal kebangkitan industri Indonesia dan sekaligus juga sebagai tonggak yang ditanamkan Presiden Joko Widodo untuk membuat ekonomi kita tidak volatile seperti waktu-waktu yang lalu lagi, dan akan membuat pertumbuhan ekonomi kita lebih baik daripada sekarang.

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius