PLN Sektor Padang Ambil Rumah Dinas Yang Ditempati Zainal Arifin


SUMBARNET.COM - Sungguh malang nasib yang dialami Zainal Arifin BE (66), pensiunan pegawai PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat Bidang Niaga, yang  pernah ditunjuk sebagai Kepala Unit Gardu Induk (GI) dan Transmisi Solok Sektor Padang. Sebab diusia senjanya saat ini, ia malah ditimpa persoalan sangat berat.

Kisah pilu yang dialami Zainal Arifin berawal ketika rumah yang telah ditempatinya berpuluh tahun di Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, diambil secara sepihak oleh PLN Sektor Padang, dengan alasan rumah itu adalah aset PT PLN.

"Saya sangat kecewa dengan pihak PT PLN sebab semenjak rumah itu saya tempati pada September 1988, saya tidak pernah diberikan surat penunjukan menempati rumah dinas, sebagaimana lazimnya perusahaan menunjuk atau menugaskan sesuatu kepada pegawainya," kata Zainal Arifin kepada awak media pada Senen (24/2).

Zainal Arifin menjelaskan, "walau surat penunjukan itu telah saya ajukan berulangkali, namun saat itu jawab pimpinan PLN Sektor Padang tetap sama, yaitu rumah tersebut tidak terdaftar sebagai aset atau aktifa tetap PLN di Sektor Padang,” jelasnya.

Zainal Arifin mengaku ketika itu ia kesulitan untuk menentukan apakah rumah yang dia diami itu merupakan rumah dinas atau rumah jabatan, sebab kata Zainal lagi, "pihak PLN tidak pernah punya bukti tentang kepemilikannya dan terdaftar menjadi aktifa tetap PLN."

Sebagai Kepala Unit Gardu Induk (GI) dan Transmisi Solok Sektor Padang keberadaan Zainal Arifin saat itu adalah untuk mengembangkan jaringan listrik di Kota Solok, jadi ia merasa penting untuk memiliki bukti hukum tentang rumah yang ditempatinya di Kelurahan Tanah Garam itu.

"Di sisi lain pihak manajemen PLN masih terus berjanji akan mencarikan data-data autentik ke  PLN Wilayah III dan PLN Pikitring Bukittinggi," ujar Zainal Arifin.

Zainal Arifin menambahkan bahwa sejak bulan September 1988 dia telah mengajukan perbaikan rumah tersebut, karena kondisinya sangat tidak layak sebagai rumah tinggal. “Namun permohonan saya selalu ditolak, dengan alasan status rumah itu bukan milik perusahaan terdaftar menjadi aktifa tetap PLN. Akhirnya saya memperbaiki rumah itu dengan uang pribadi yang saat itu bernilai 15 juta rupiah,” katanya.

Ia menyebut tak berniat untuk menguasai rumah itu, buktinya tahun 1992 rumah tersebut telah dia serahkan ke PLN Sektor Padang sebagai Unit Induk GI dan Transmisi Solok. Namun selalu ditolak dengan alasan bahwa rumah itu bukan aset PLN

"Saya merasa aneh, di saat bersamaan pihak manajemen di PLN Sektor Padang pun memotong gaji saya sebesar 75 persen sebagai uang perumahan. Pemotongan itu mulai pada April 1992 hingga Januari 1995. Padahal saat itu status rumah yang saya tempati belum jelas juga status hukumnya,” ujar pria asal Sunda ini.

Yang membuat Zainal Arifin terpukul, ia justru dilaporkan ke Polsek Kota Solok oleh PLN UPT Padang, dengan laporan bahwa Zainal Arifin ingin menguasai aset PLN.

Untuk itu Zainal Arifin mohon pada GM PLN agar bisa menyelesaikan persoalan ini dengan lebih bijaksana.

Hingga berita ini diturunkan awak media ini terus berupaya menghubungi PT PLN Sektor Padang untuk dikonfirmasi. (Firman Sikumbang)

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius