Model Pembelajaran El-Skill Tingkatkan Kompetensi Belajar Mahasiswa Prodi Vokasi Teknik Elektro


Oleh: Dr. (c) Sepannur Bandri, M.Pd, M.T

“Employers look for people who would ‘Fit in’ and become a valued part of the organization and can start contributing to get the job done without delay. While high chances are that most of the employers will be on the lockout for some job-specific skills but it is also true that at the same time they also want the candidate to have some general skills. During the recruitment process a candidate may face questions about job-specific skills and general employability skills with equal emphasis”.(Brewer) 2013, Kutipan diatas menyatakan, pemilik usaha mencari orang-orang yang ‘sesuai’ sehingga menjadi bagian yang dihargai dari perusahaan dan dapat berkontribusi untuk menyelesaikan pekerjaan tanpa mengulur-ulur waktu. Sebagian besar pemilik usaha mencari pekerja yang memiliki keterampilan khusus dan sekaligus mereka juga menginginkan calon pekerja memiliki beberapa keterampilan umum. Selama proses rekrutmen, seorang kandidat mungkin menghadapi pertanyaan tentang keterampilan spesifik pekerjaan dan keterampilan umum dengan penekanan yang sama.

Artikel ini menjelaskan bagaimana model pembelajaran employability skill (El-Skill)  mampu meningkatkan kompetensi belajar mahasiswa program studi vokasi TE. Artikel ini mendeskripsikan hasil implementasi model El-Skill yang terbukti layak diterapkan ditinjau dari segi validitas, praktikalitas dan efektivitas. Permasalahan umum pada lulusan vokasi adalah belum memiliki kualifikasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang menuntut para lulusan untuk memiliki keterampilan generik dan keterampilan spesifik untuk menghadapi  situasi baru dan situasi yang sudah biasa. Kenyataan yang ditemukan di dunia kerja adalah sulit terjadi pergerakan karir para lulusan vokasi. Banyak dari mereka yang tetap bertahan pada posisi yang sama ketika mereka masuk pertama kali. Padahal mereka sudah bekerja selama lima sampai sepuluh tahun atau bahkan lebih.

Kompetensi kognitif mahasiswa yang dikembangkan dosen selama ini hanya sampai pada level mengaplikasikan (C3) dan kompetensi ranah psikomotor mahasiswa sampai pada level memanipulasi (P2). Dosen belum mengembangkan kompetensi afektif mahasiswa yang dituntut dalam era industri 4.0 seperti mudah beradaptasi dengan situasi baru, bekerja keras, self-management, dan lain-lain. Untuk menghasilkan lulusan program studi vokasi yang relevan sesuai kebutuhan dunia kerja pada era industri 4.0 maka diperlukan suatu pengembangan model pembelajaran pada mata kuliah Instalasi Listrik (ITL) sehingga akan dapat meningkatkan kompentensi belajar mahasiswa.

Hal ini sejalan dengan Peraturan presiden No. 8 Tahun 2012 menetapkan kerangka kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sebagai acuan dalam penyusunan capaian pembelajaran lulusan dari setiap jenjang pendidikan secara nasional.

Materi pokok yang dipelajari pada mata kuliah ITL adalah Instalasi listrik sesuai ketentuan PUIL, Peralatan Instalasi Listrik, Instalasi rumah dan gedung bertingkat, Teknik Penerangan ruangan, Instalasi tenaga dan kendali motor listrik 3 Phasa.

Permasalahan yang terjadi adalah proses pembelajaran di program studi vokasi Teknik Elektro adalah, mahasiswa prodi vokasi TE belum dilatih, dan belum memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja pada era industri 4.0. mahasiswa prodi vokasi TE belum menyadari kebutuhan dunia kerja era industri 4.0. Akibatnya jenjang karir alumni prodi vokasi TE ITP di dunia kerja masih belum terlihat.

Penelitian ini diawali dengan melakukan survey yang dilakukan pada objek penelitian dengan melakukan 3 (tiga) teknik pengumpulan data yaitu, melalui angket, wawancara dan observasi menunjukkan bahwa secara umum baik tenaga pendidik dan peserta didik menyatakan perlunya model pembelajaran El-Skill untuk meningkatkan kompetensi belajar serta untuk mengetahui validitas, kepraktisan dan keefektifan perangkat pembelajaran yang digunakan untuk mencapai kompetensi belajar mahasiswa vokasi.

Dalam kenyataannya, perkuliahan pada prodi vokasi TE selama ini masih didominasi dengan metode ceramah sedangkan perkuliahan praktek masih pada level belajar untuk dapat melakukan (learning to do). Penerapan model-model pembelajaran inovatif yang diperlukan untuk menambahkan kemampuan bernalar yang baik, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi dan kemampuan bekerjasama pada mahasiswa, persentasenya masih rendah.

Uji kompetensi yang dilaksanakan terhadap mahasiswa Prodi Vokasi Teknik Elektro sebagai syarat mengikuti ujian proyek akhir juga terbatas sampai level C3 untuk ranah kognitif dan P2 untuk ranah psikomotor.  Dosen belum mengembangkan kompetensi afektif mahasiswa yang dituntut dalam era industri 4.0 seperti mudah beradaptasi dengan situasi baru, bekerja keras, self-management, dan lain-lain.

Hasil analisis kebutuhan menunjukkan bahwa mahasiswa membutuhkan perubahan proses pembelajaran yang mendukung pengembangan kompentesi pada ranah kognitif, psikomotor dan afektif. Berdasarkan permasalahan di atas, solusi yang ditawarkan dalam penelitian ini adalah mengembangkan model pembelajaran employability skill (El-Skill). Employability skill adalah keterampilan-keterampilan inti yang dapat ditransfer yang menggambarkan fungsi sifat-sifat dasar pengetahuan, keterampilan/keahlian, dan sikap yang dibutuhkan oleh tempat/dunia kerja pada abad 21. Employability skill diperlukan untuk keberhasilan pada semua level tenaga kerja dan semua tingkat pendidikan (Overtoom, 2000). Employability skill adalah kemampuan seseorang untuk memasuki pasar tenaga kerja dan bergerak di dalam pasar tenaga kerja dan untuk mendapatkan pekerjaan yang mungkin dapat diperoleh dan dapat berlangsung lama (Northern Ireland Department for Employment and Learning, 2003 dalam Sumarno, 2016).

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D), dengan mengadopsi prosedur pengembangan menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation) yang dianggap dapat mewakili panduan fleksibel dalam menciptakan pembelajaran yang valid praktis dan efektif.

Beberapa teknik analisis data dilakukan seperti penilaian kualitatif, analisis validitas para ahli, analisis keterlaksanaan, analisis efektifitas, analisis data deskriptif, dan perhitungan gain skor aspek kognitif.

Keseluruhan teknik pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh dari penelitian dapat terukur secara kualitatif maupun kuantitatif.

Hasil temuan menunjukkan bahwa model pembelajaran El-Skill yang dikembangkan terbukti mempunyai tingkat validitas yang tinggi baik dilihat dari segi konstruk dan isi yang dibangun serta perangkat-perangkat  pembelajaran yang dihasilkan.

Rekomendasi yang diberikan berdasarkan hasil uji validitas model pembelajaran El-Skill adalah semua sintak yang dikembangkan pada model pembelajaran ini layak untuk digunakan sebagai panduan kegiatan pembelajaran lainnya diluar mata pelajaran ITL selama jenis pembelajaran tidak terlampau jauh dari yang telah dikembangkan.

Penemuan lain dari penelitian ini adalah model El-Skill terbukti tingkat praktikalitasnya tinggi yang diukur dengan respon dari penggunanya yaitu dosen dan mahasiswa. Penemuan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran ini betul-betul praktis penggunaannya ketika diimplementasikan kepada penggunanya dan memudahkan tenaga pendidik dalam menyampaikan informasi kepada peserta didik terkait materi pembelajaran.

Tingkat kepraktisan sendiri dapat terukur ketika seluruh produk pendukung model pembelajaran yang dikembangkan dapat digunakan secara praktis oleh tenaga pendidik dan peserta didik.

Kemudahan penggunaan, pemakaian bahasa yang mudah dipahami, panduan pemakaian produk buku ajar dan buku model serta desain gambar dan grafis merupakan beberapa indikator yang digunakan pada penelitian ini untuk mengukur tingkat kepraktisan produk.

Tingginya tingkat efektivitas merupakan salah satu penemuan dari penelitian ini dimana terjadi peningkatan kemampuan mahasiswa dilihat dari aspek kognitif, psikomotorik dan afektif.

Penemuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran ini betul-betul efektif ketika diimplementasikan kepada mahasiswa dan membantu dosen untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Model ini dikatakan efektif dengan menggunakan rumus gain score dimana hasil pembelajaran siswa sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran diukur menggunakan instrumen penelitian.

Hasil dari pengujian efektivitas model pembelajaran El-Skill tersebut adalah model pembelajaran ini dapat diimplementasikan kepada Mahasiswa Program Studi  Vokasi Teknik Elektro Institut Teknologi Padang.
Hasil uji efektivitas merekomendasikan model pembelajaran El-Skill ini untuk dapat diterapkan pada mata kuliah ITL atau yang sejenis dengannya pada jurusan lainnya yang sesuai karena sudah teruji efektivitasnya.

Dampak langsung yang dapat dirasakan dari hasil proses pembelajaran dinamakan dampak instruksional (Instructional Efects).

Dampak langsung yang pertama dihasilkan oleh penelitian ini adalah adanya perbedaan yang positif dan cukup signifikan antara kondisi sebelum dilakukannya proses pembelajaran dibandingkan dengan kondisi setelah pembelajaran. Terjadinya peningkatan kompetensi belajar mahasiswa, menandakan bahwa model pembelajaran yang dikembangkan ini terbukti mampu meningkatkan kompetensi belajar mahasiswa prodi vokasi TE.

Untuk melihat sejauh mana manfaat dari penerapan model pembelajaran El-Skill ini, bagi pemerintah dan instansi terkait, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan dalam membuat kebijakan yang mengatur tentang pelaksanaan konsep employability skill yang efektif dengan keterlibatan semua pihak. Sedangkan bagi perguruan tinggi, dunia kerja dan pemerintah, hasil penelitian ini dapat mempererat hubungan kerjasama dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya pendidikan vokasi.

Dampak instruksional model El-Skill adalah meningkatkan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor mahasiswa. Kompetensi kognitif didapat dari hasil tes belajar, kompetensi afektif didapat dari penilaian employability skill pada enam aspek melalui observasi dan penilaian jobsheet dan kompetensi psikomotor didapat melalui observasi. Dampak pengiring model El-Skill adalah memperbesar peluang kerja lulusan program studi vokasi karena memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.
Setiap penelitian dituntut memiliki nilai kebaruan (novelty) dari penelitian terdahulu sehingga terlihat jelas perbedaan dan dampak yang diberikannya. Ada beberapa kebaruan yang dihasilkan dari pengembangan model pembelajaran El-Skill ini dilihat dari komponen model yang dimilikinya.

Kebaruan yang pertama adalah modifikasi dari kombinasi dua model pembelajaran yaitu model Cooperative Learning metode STAD (Student Team Achievement Division) dan model Problem Based Learning, namun ikut menyertakan e-learning sebagai bagian komplementer/pelengkap dari model tersebut saat proses pembelajaran berlangsung.

Model El-Skill ini dikembangkan berdasarkan kajian mendalam yang bersifat filosofis, dan teoritis sehingga mampu dipertanggungjawabkan. Kebaruan yang kedua adalah perumusan sintak pembelajaran baru terdiri dari 7 sintak yaitu (1) Menyajikan permasalahan/pertanyaan terkait dunia nyata, (2) membuat perencanaan pemecahan masalah, (3) Mencari informasi secara individual sesuai perencanaan, (4) Diskusi kelompok untuk menyatukan data dan analisis data, (5) Presentasi kerja kelompok dan diskusi kelas, (6) Evaluasi, (7) Penghargaan individu dan kelompok. Kebaruan berikutnya adalah sistem pendukung model pembelajaran El-Skill yaitu (1) Buku Model (2) Buku Ajar dan (3) Jobsheet

Kebaruan yang ketiga adalah kompetensi tanggung jawab, bekerja keras dan disiplin dapat dikembangkan dan diukur apabila mahasiswa diberi tugas individual. Kompetensi ini bisa dikembangkan melalui penerapan sintak ke-3 PBL, namun pada PBL tidak ada penegasan kerja individual. Oleh karena itu, sintak ke-3 PBL dimodifikasi dan diterapkan pada sintak ke-3 model El-Skill berupa “Setiap anggota kelompok bekerja secara individual mencari informasi atau melaksanakan percobaan sesuai perencanaan” langkah (sintak ke-3 novelty).

Sintak ke-4 juga merupakan kebaruan (novelty) dimana pada PBL dan Kooperatif tipe STAD sintak ini langsung tergabung dengan sintak sebelumnya. Alasan membuat sintak ke-4 ini adalah agar lebih dapat mengembangkan kemampuan kerjasama dan komunikasi dari mahasiswa. Disamping itu secara tidak langsung juga dapat mengevaluasi tanggung jawab mahasiswa terhadap tugas mandiri yang diberikan sebelumnya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran El-Skill menunjukkan bahwa model telah memenuhi persayaratan validitas, praktikalitas,  dan efektifitaas dan memiliki kebaruan sehingga layak untuk diterapkan pada program studi vokasi lain dengan kompetensi yang berbeda.

Implikasi dari penerapan model pembelajaran El-Skill adalah membuat pembelajaran pada mata kuliah instalasi listrik lebih praktis dan Penelitian ini telah menghasilkan model pembelajaran El-Skill pada mata kuliah Instalasi listrik dan sistem pendukungnya berupa buku model, buku ajar dan jobsheet dan perangkat pembelajaran yang valid, praktis dan efektif.

Model pembelajaran El-Skill memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan enam keterampilan generik yaitu komunikasi, kerjasama, pemecahan masalah, bertanggung jawab, disiplin dan bekerja keras melalui langkah-langkah pembelajaran (sintaks) yang diawali dengan penyajian masalah yang terkait dunia nyata.

Proses pengembangan enam keterampilan generik terjadi secara individu dan kelompok, dipandu oleh sintaks pembelajaran yang dikembangkan. Pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi mahasiswa karena peningkatan keterampilan generik mahasiswa, diikuti dengan peningkatan kompetensi pada ranah pengetahuan, dan ranah psikomotorik.

Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi dosen dan pengelola/penyelenggara pendidikan, khususnya prodi vokasi TE dalam melaksanakan pembelajaran sehingga kualitas dan kualifikasi lulusan yang dihasilkan dapat memenuhi tuntutan kebutuhan dunia kerja.

Artikel ini ditulis oleh Dr. (c) Sepannur Bandri, M.Pd, M.T  berdasarkan disertasi untuk penyelesaian Program Doktor (S-3) pada Prodi Pendidikan Teknologi Kejuruan Pascasarjana Universitas Negeri Padang dengan Tim Promotor Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, M.Ed. dan Co-Promotor Dr. Sukardi, M.T. yang telah lulus diseminarkan pada ujian tertutup tanggal 21 Agustus 2020 pukul 09:00 dengan Tim Penguji yaitu Prof. Ganefri, Ph.D.; Prof. Dr. Ambiar, M.Pd.; Dr. Fahmi Rizal, M.Pd., M.T.; Dr. Waskito, M.Pd.; Prof. Dr. Jalius Jama, M.Ed.; Prof. Dr. Wakinudin, M.Pd.; dan Prof. Dr. Soesanto, M.Pd. (Penguji Eksternal dari Universitas Negeri Semarang).

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius