Model Pelatihan Investigasi Gedung Pasca Gempa Guna Tingkatkan Kompetensi Pendidikan Vocasi

 


Oleh: Sutrisno, Prof. Ganefri M.Pd, Ph.D dan Dr. Rusnardi Rahmad, M.Eng, Ph.D


Pelajaran vokasi merupakan pendidikan tinggi yang menunjang peserta didik guna menguasai profesi dan keahlian terapan tertentu yang dapat digunakan saat memasuki dunia kerja (Pavlova, 2009). Seorang sarjana terapan teknik sipil diharapkan memiliki kompetensi atas pekerjaan yang akan dihadapi dan menjadi acuan bagi lulusan untuk tahu dan mampu menangani pekerjaan yang akan dihadapi. Melalui jenis kompetensi tertentu yang dimiliki, calon pengguna akan mengetahui posisi yang cocok nantinya dipekerjaan dan tepat untuk seseorang tersebut (Anderson, dkk, 2005). Kepmen nomor 327 tahun 2009 tentang ketentuan SKKNI Bidang Konstruksi Jurusan Konstruksi dan Konstruksi Sipil menjelaskan bahwa dengan menguasai standar kompetensi tertentu, personel terkait akan mampu: a) bagaimana menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, b) bagaimana Mengatur tugas atau pekerjaan agar dapat terlaksana, c) Apa yang harus dilakukan jika ada sesuatu yang berbeda dengan rencana awal; d) Bagaimana menggunakan kemampuannya untuk memecahkan masalah atau melakukan tugas dalam kondisi yang berbeda.


Gempa yang sering melanda Indonesia menyebabkan banyak kerusakan infrastruktur seperti bangunan gedung bertingkat. Walaupun ada bangunan bertingkat yang masih tegak dan terlihat kokoh setelah gempa, namun keandalannya pasti menurun (Sijabat dalam Widodo Prawirodikromo, 2012). Baik itu dalam fisika bangunan atau dalam daya dukung beban struktur, keandalannya akan berkurang. Gempa juga mempengaruhi kondisi elemen struktur seperti kolom dan balok, demikian pula defleksi balok atau pelat akan mengekspos tulangan akibat keretakan dan menyebabkan tulangan menjadi berkarat. Guncangan gempa juga akan mempengaruhi perubahan sifat geometri bangunan pada arah vertikal dan horizontal, terjadinya perubahan frekuensi natural yang menyebabkan struktur gedung menjadi lemah. Jika audit dan penilaian bangunan tidak segera dilakukan, maka akan mengancam keselamatan, kenyamanan dan keamanan dalam pengoprasionalkan gedung. Memastikan keandalan struktur gedung dan bangunan dalam menghindari kecelakaan sangat penting dilakukan. Kerusakan bangunan gedung akibat gempa bumi yang terjadi perlu untuk diselidiki apakah bangunan masih dalam kondisi aman atau tidak untuk digunakan dan memastikan apakah struktur  bangunan masih dapat diperbaiki atau tidak. 


Penyelidikan gedung pasca gempa membutuhkan seseorang yang mampu dan kompeten dalam melakukan hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model pelatihan investigasi gedung pasca gempa yang valid, efektif dan praktis dan dapat memenuhi kebutuhan pendidikan vokasi Kebutuhan seseorang yang memiliki kompetensi dan mampu menagani hal ini perlu diwujukan dalam proses pembelajaran melalui pendidikan vokasi. Proses pembelajaran yang dikemas harus mampu mewujudkan kebutuhan dan berorientasi pada kemampuan untuk diterapkan di dunia kerja. Hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan keinginan ini adalah dengan pembelajran yang berfokus pada kopetensi yang diinginkan melalui penerapan program pelatihan. Pelatihan merupakan proses mengajarkan pengetahuan dan pengembangan keterampilan bekerja (vocational) serta sikap agar pekerja semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik sesuai dengan standar.


Pengembangan model diawali dengan menganalisis adanya laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tentang kerusakan rumah dan gedung akibat gempa yang terjadi. Laporan tersebut harus melakukan investigasi lebih lanjut secepatnya untuk menentukan apakah bangunan tersebut dapat digunakan kembali dengan aman dan apakah struktur bangunan tersebut masih dapat diperbaiki. Hal ini perlu dicarikan jawaban dan solusinya, yaitu dengan cara menindaklanjuti penyelidikan lanjutan terhadap rumah dan gedung yang rusak tersebut. Kebutuhan seseorang yang memiliki kompetensi dan mampu menagani hal ini perlu diwujukan melalui pendidikan vokasi. Tujuan dari pendidikan vokasi adalah untuk menguasai keterampilan terapan tertentu, termasuk program pendidikan diploma, yang setara dengan program pendidikan akademik sarjana.


Pelacakan terhadap silabus juga dilakukan dibeberapa perguruan tinggi, yakni UGM Jogja, NAROTAMA Surabaya, UNTAR Jakarta, USU Medan, UNIMED Medan, UMY Malang dan ITM Medan pada jurusan atau prodi teknik sipil atau teknik bangunan. Hasil pelacakan menunjukkan bahwa mata kuliah yang mempelajari tentang kegempaan dengan nama mata kuliah Rekayasa Gempa, Teknik Gempa, Gempa, dan lain-lain tidak terdapatnya materi yang memperdalam tentang investigasi gedung pasca gempa. Hal ini mengisyaratkan perlunya peningkatan kualitas dan relevansi kompetensi untuk direalisasikan. Proses pembelajaran harus mampu menghasilkan lulusan yang kemampuannya memenuhi kebutuhan dan menghadapi kebutuhan dunia kerja, oleh karena itu harus ada keterkaitan dan kesesuaian antara ilmu yang diberikan dengan kebutuhan dunia kerja. Hal yang dilakukan untuk mewujudkan keinginan di atas adalah dengan pembelajran yang berfokus pada kopetensi yang diinginkan melalui penerapan program pelatihan.


Kepmen No. 327 tahun 2009 tentang SKKNI bidang konstruksi konstruksi dan konstruksi sipil menjelaskan bahwa dengan menguasai standar kompetensi tertentu, personel terkait akan mampu: a) bagaimana menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, b) bagaimana menata Tugas atau pekerjaan agar pekerjaan dapat terlaksana, c) apa yang harus dilakukan jika ada sesuatu yang berbeda dari rencana semula; d) bagaimana menggunakan kemampuannya untuk memecahkan masalah atau melakukan tugas dalam kondisi yang berbeda. 


Model AMDAl adalah model rencana pengembangan yang selanjutnya digunakan sebagai model pembelajaran dalam pelatihan untuk meningkatkan kompetensi penanganan gedung pasca gempa. Model yang dikembangkan disusun berdasarkan tujuan yang akan dicapai dan berdasarkan landasan filosofis serta landasan teoritis. Model AMDAl hasil desain awal yang terdiri dari 6 sintaks selanjutnya divalidasi oleh 5 (lima) orang ahli atau pakar dibidangnya dengan metode expert judgment melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD). Tujuannya adalah untuk menelaah tiap item pernyataan dan pertanyaan pada instrumen secara linguistik dan analitis terhadap hal yang diukur (Engellant, 2016).


Saran dan masukan untuk perbaikan demi kesempurnaan produk yang dikembangkan dilakukan dalam kegiatan ini serta para ahli juga dapat memberikan penilaian tentang validasi terhadap konten hasil pengembangan. Saran dan masukan dari pakar digunakan sebagai acuan untuk merevisi produk agar layak digunakan. Pada dasarnya para ahli yang digunakan dalam kegiatan FGD menyatakan bahwa keempat produk yakni (1) Buku Model, (2) Buku Modul, (3) Buku Panduan Instruktur dan (4) Buku Panduan Peserta dinyatakan layak untuk digunakan, namun ada beberapa komentar, masukan dan saran terhadap masing-masing seperti dapat dilihat pada halaman 81. Saran dan masukan inilah yang digunakan dalam perbaikan produk penelitian.


Instrumen yang valid selanjutnya digunakan untuk mendapatkan data yang diarahkan pada analisis statistik yang realistik dan tidak terjadi penyimpangan hasil penelitian (Hamed, 2016). Formula Aiken’s V digunakan untuk menghitung validitas dari instrumen dan mendapatkan nilai conten-validity coefficient  yang didasarkan pada penilaian dari panel ahli sebanyak n orang (Azwar, 2012). Hasil validasi konten yang digunakan untuk mengevaluasi isi model AMDAl dalam penelitian ini. Rata-rata dari delapan aspek evaluasi yang digunakan dinyatakan valid dengan nilai Aiken’s V sebesar 0,800. Revisi terhadap produk dilakukan di tahap development, buku model, modul, buku panduan instruktur, dan buku panduan peserta direvisi berdasarkan hasil FGD. Selanjutnya divalidasi kembali oleh pakar di lingkungan Universitas Negeri Medan dan Institut Teknologi Medan, analisis data menggunakan formula Aiken’s V. 


Validasi konstruk sintaks AMDAl dilakukan dengan menggunakan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS). Penggunaan metode SEM-PLS didasarkan pada pertimbangan bahwa metode ini tidak harus besar sampel yang digunakan dan data tidak harus berdistribusi normal (Geisser & Stone dalam Miftahul U., 2014). Prosedur melalui tahapan memastikan bahwa loadings factor untuk masing-masing idikator sintak harus >0,7. Kriteria penilaian dilakukan dengan melihat nilai AVE, bila >0,5 artinya valid atau sebaliknya. Untuk melihat reliabel dapat dilihat dari nilai composite reliability, bila > 0,70 berarti reliabel. Selanjutnya untuk mengevaluasi model struktural atau konstruk (Inner Model), dilakukan dengan melihat nilai R2 (R-square) yang besarnya diantara 0 ke 1 (0< R2<1), semakin besar nilainya dan mendekati 1, maka semakin besar pula pengaruh sintaks terhadap model. Berdasarkan hasil analisa SEM-PLS diperoleh nilai loading factor>0,7 artinya indikator yang digunakan pada sintaks adalah valid, AVE>0,5 artinya sintaknya valid, nilai composite reliability>0,7 artinya sintks reabel dan nilai R2=0,963 mendekati 1, artinya sintaks sangat berpengaruh terhadap model.


Setelah sintak model AMDAl dinyatakan valid, selanjutnya perangkat dari model atau produk penelitian juga diuji kevalidannya dengan cara menyebarkan instrumen kepada pakar atau ahli dibidang yang dibutuhkan. Penentuan validitas isi perangkat model atau produk penelitian dianalisis dengan menggunakan formula dan indeks Aiken’s V. Hasil nilai rata-rata keseluruhan butir untuk menilai validasi berada diantara niali Aiken’s 0,6 dengan 1 (0,6 ≤ V ≤ 1). Hal ini berarti bahwa produk penelitian yang dikembangkan memenuhi kriteria valid sehingga layak untuk di uji cobakan dan diimplementasikan didalam pelatihan. Aktifitas yang dilakukan pada tahap implementation adalah mengukur praktikalitas dan efektifitas produk penelitian dengan menerapkan produk penelitian dalam pelatihan. Uji praktikalitas dilakukan dengan menganalisis data yang diperoleh dari angket kepraktisan dari masing-masing produk. Uji ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kepraktisan dari produk penelitian dengan menggunakan formula Tingkat Capaian Responden (TCR) yang dilakukan Fadhilah, Z Mawardi Efendi, dan Ridwan ditahun 2018. Produk penelitian digunakan dalam proses pelatihan pada uji coba terbatas dan uji coba diperluas. Sehingga responden praktikalitas produk adalah pengguna produk penelitian yaitu instruktur dan peserta pelatihan. Nilai rata-rata TCR yang diperoleh pada uji praktikalitas terhadap produk penelitian buku model dan modul >80% sehingga digolongkan praktis sedang buku panduan instruktur dan peserta pelatihan >90% sehingga digolongkan sangat praktis. Artinya bahwa produk penelitian dalam penelitian ini dapat terapkan ke dalam pelatihan. 


Kepraktisan produk yang dikembangkan berdampak pada efektifitas proses pelatihan dan untuk melihat keefektifan dari produk pengembangan dalam pelaksanaan pelatihan dilakukan uji ekfetifitas. Uji efektifitas dilakukan setelah uji produk penelitian pada kelas terbatas telah memenuhi kriteria efektif. Subjek uji efektifitas diambil dari lulusan D3 dan mahasiswa S1 Tenik Sipil atau mereka yang memiliki pengetahuan tentang kegempaan melalui pernah belajar rekayasa gempa atau teknik gempa dan para pengguna jasa konstruksi seperti konsultan perencana, pelaksana dan pengawas serta mereka yang mempunyai kemampuan mengoprasikan komputer. Jumlah subjek ujicoba adalah 28 orang dan dibagi menjadi 2 kelas, 14 orang sebagai kelas eksperimen dan 14 orang lagi sebagai kelas kontrol.


Hasil uji efektifitas ditunjukkan oleh perbandingan hasil pre-test dan pos-test pada kelas diperluas terjadi kenaikan nilai sebesar 20,08% dikelas kontrol dan 40,88% di kelas eksperimen serta kenaikan 17,03% di hasil pos-test antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa produk penelitian dinyatakan efektif. Karakteristik nilai pre-test dan pos-test dimasing-masing kelas yakni kelas kontrol dan eksperimen.


Uji homogenitas dan uji beda atau uji-t juga dilakukan pada penelitian ini. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil merupakan varians yang homogen atau tidak. Analisa untuk uji digunakan alat bantu software SPSS V.21. Kriteria penilaian bahwa sample adalah homogen digunakan persyaratan nilai signifikansi hasil analisa. Jika nilai signifikansinya > 0,05, maka sample data dikatakan homogen. Hasil analisa uji homogenitas dari sample data nilai Pre-Test Kls Kontrol & Kls Eksp dan data nilai Pos-Test Kls Kontrol & Kls Eksp. menunjukkan hasil nilai signifikansinya 0,678 dan 0,715 > 0,005, artinya data nilai pre-test dan pos-test dari kelas kontrol dan eksperimen adalah homogen. 


Sedangkan uji beda adalah uji untuk mengetahui atau mengamati perbedaan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Hasil uji-t dari sample data nilai Pre-Test Kls Kontrol & Kls Eksp dan data nilai Pos-Test Kls Kontrol & Kls Eksp. menunjukkan besar nilai Sig(2-tailed) sebesar 0,001<0,05, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pelatihan pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.


Perbandingan hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen ditinjau dari psikomotorik, meliputi evaluasi perilaku motorik dan koordinasi fisik peserta senam, keterampilan motorik dan kemampuan fisik. Dari kelas kontrol hingga kelas eksperimen, persentase skor psikomotorik meningkat sebesar 35,57. Hal ini menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat meningkatkan realisasi nilai psikomotorik. Tingkah laku peserta pelatihan yang berhubungan dengan perasaan dengan maksud untuk menggugah emosi peserta agar ikut berperan aktif dalam kegiatan pelatihan dilakukan juga penilaian yang disebut penilaian ranah afektif. Penilaian aspek afektif kelas kontrol dan kelas ekperimen mengalami kenaikan nilai rata-rata nilai afektif akibat adanya produk penelitian adalah sebesar 39,44%. Hal ini menunjukkan bahwa produk penelitian memegang peranan penting dalam pelaksanaan pelatihan investigasi gedung pasca gempa.

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius