Ketika Staf DPRD Pasbar AS Digerebek Massa, Ternyata Afrizal Yang Tanda Tangan Pernyataan



SUMBARNET.COM - Staf DPRD Pasaman Barat, inisial AS mengungkap yang menandatangani surat pernyataan itu bukan orang tua kandungnya. Sebab, saat itu orang tuanya kandungnya tidak bisa dihubungi.


"Mungkin sedang di masjid. Maka keluarga jauhlah yang datang atas nama Afrizal dan menandatangani surat pernyataan itu," kata AS pada awak media.


Orang tua kandung AS baru mengetahui kejadian ini setelah di telpon kembali dan setelah surat pernyataan dibacakan.


AS mengaku memang berdua dengan ketua DPRD PH di kantor Gerindra dan bukan berbuat mesum atau zina.


"Saya diminta membantu ketua untuk membuat laporan partai yang diminta Kesbangpol Pasaman Barat," katanya di Simpang Empat, pada Sabtu (24/4) kepada wartawan mengklarifikasi tuduhan terhadap dirinya melakukan perbuatan zina bersama ketua DPRD setempat.


Menurutnya usai penggerebekan itu membuat AS dan keluarganya merasa malu karena dituduh berbuat mesum dengan pejabat tinggi di Pasaman Barat.


"Memang benar hanya saya dan PH di dalam kantor  malam itu. Namun saya tidak memiliki hubungan khusus dengan beliau," tegas AS.


AS menjelaskan kedatangan dirinya ke kantor tersebut untuk mengambil data dikomputer kantor yang dihilangkannya dan dipindahkan ke flashdisk baru.


AS datang ke kantor itu atas usulan ajudan PH, setelah melakukan buka bersama disalah satu rumah makan.


"Awalnya cuma berdua dan lampu memang dimatikan karena takut ada yang singgah karena ketua tidak tahu mereka datang ke kantor partai," ujar AS.


Tak lama kemudian ternyata PH datang lalu meminta tolong untuk melengkapi data-data yang akan diserahkan ke Kesbangpol Pasaman Barat.


Kemudian ajudan pergi keluar untuk minum kopi dan meninggalkan ia berdua tanpa sepengetahuannya, pintu ditutup dan lampu dimatikan.


Setelah ditinggal berdua, AS bekerja selama kira kira 15 menit bersama PH, kemudian PH pergi sholat.


Selesai bekerja, AS mengunci ruangan kerja dan duduk di kursi sofa menelepon temannya sambil buka jilbab untuk sholat.


"Setelah PH sholat, baru saya pergi sholat, PH duduk di sofa tamu dan saya pergi sholat. Di ruang tamu saya tidak mengetahui apa yang dilakukan PH karena saya sedang sholat dan tak mengetahui apa yang dilakukannya," sebut AS lagi.


"Saat saya shalat itulah terdengar suara ribut-ribut dari luar dan menuding ada narkoba dalam kantor," ujar AS.


Ia mendengar PH membuka pintu. Setelah itu saya duduk diam karena panik mendengar suara ramai masuk kantor. Setelah itu datang masa dan langsung ribut menuduh kami melakukan perbuatan zina.


Saat itu ia ketakutan karena tidak memiliki hubungan khusus dengan PH seperti tuduhan massa.


"Saya dibentak-bentak dan saya tidak bisa menjawab," katanya sambil mengusap muka di hadapan para awak media.


Setelah massa melakukan pengecekan keseluruh ruangan termasuk lantai dua. Ia hanya terdiam duduk di depan komputer dan mendengar ada tuduhan ia bersama PH berzina.


"Sebelumnya saya pernah membantu PH mengerjakan tugas partai dan staf di Gerindra kebetulan baru dan saya disuruh membantu," kata AS.


"Saya tegaskan tidak ada hubungan pribadi dengan PH. Saya tidak berizina tetapi berdua di ruangan kantor memang benar dalam rangka membantu tugas PH," tegas AS mengakhiri. (tim)

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius