Aparat Myanmar Terlibat Gencatan Senjata di Perbatasan China



SUMBARNET.COM - Aparat keamanan Myanmar terlibat gencatan senjata dengan aliansi kelompok etnik bersenjata yang menentang kudetamiliter di negara itu, Minggu (23/5/2021). Media Myanmar melaporkan, bentrokan tersebut berlangsung di Muse, sebuah kota di daerah perbatasan dengan China. 


Muse adalah salah satu titik penyeberangan utama dari Myanmar ke China. Pertempuran di kota itu menjadi konflik bersenjata terbaru yang melanda Myanmar, sejak kudeta Februari lalu. Perebutan kekuasaan secara paksa di negara Asia Tenggara itu menyebabkan eskalasi konflik antara militer dan kelompok pemberontak di berbagai wilayah perbatasan. 


Insiden kekerasan yang diwarnai dengan pemboman, penembakan, dan pembakaran properti di seluruh penjuru Myanmar juga meningkatkan ketegangan di kalangan penduduk negeri itu.


Lembaga penyiaran DVB dan Khit Thit Media melaporkan, baku tembak di Muse hari ini terjadi pada saat fajar menyingsing. Khit Thit Media bahkan menerbitkan gambar-gambar yang dikatakan sebagai kendaraan sipil yang ditembus lubang peluru.


Tidak ada laporan tentang korban jiwa sampai berita ini diterbitkan. Kantor berita Reuters juga tidak dapat menghubungi juru bicara junta militermaupun juru bicara empat kelompok etnik bersenjata yang membentuk Aliansi Utara di kawasan perbatasan itu.


Salah satu kelompok dalam aliansi itu, Tentara Kemerdekaan Kachin, menyerang sebuah pos militer di barat laut Myanmar. Pos itu berjarak hampir 320 km dari Muse—dan lebih dekat ke perbatasan India di sisi lain perbatasan Myanmar—pada Sabtu (22/5/2021) kemarin.


Junta militer kini harus menghadapi lebih banyak konflik sejak merebut kekuasaan pada 1 Februari dan menggulingkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi. Berbagai kelompok etnik bersenjata yang telah berperang selama beberapa dekade terakhir untuk menuntut otonomi yang lebih besar kepada pemerintah pusat Myanmar, kini telah bergabung dengan gerakan baru penentang kudeta.


Sementara itu, aksi protes melawan kekuasaan militer berlangsung setiap hari di Maynamar. Aksi mogok pun telah melumpuhkan rumah sakit, sekolah, dan banyak bisnis swasta di negara itu.


Lebih dari 125.000 guru (hampir sepertiga dari total tenaga pengajar di Myanmar) telah diberhentikan sementara karena turut bergabung dengan gerakan menentang kudeta. 


Sementara, sedikitnya 815 orang telah dibunuh aparat keamanan Myanmar sejak kudeta, menurut kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik.


Source: iNews.id

0 Post a Comment:

Posting Komentar

Selamat datang di Website www.sumbarnet.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred: Firma Ragnius